Senin, 05 Desember 2011

Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. Isi

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Kongres Pemuda II

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Peserta

Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab.

Gedung

Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong [2].
Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Arti Lambang Negara(Garuda)

Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno. Garuda merupakan burung dalam mitologi Hindu, sedangkan Pancasila merupakan dasar filosofi negara Indonesia.
Lambang negara Garuda diatur penggunaannya dalam Peraturan Pemerintah No. 43/1958

akna Lambang Garuda Pancasila

Garuda Pancasila
Burung Garuda melambangkan kekuatan
o Warna emas pada burung Garuda melambangkan kejayaan
Perisai di tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia
o Simbol-simbol di dalam perisai masing-masing melambangkan sila-sila dalam Pancasila, yaitu:
§ Bintang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa [sila ke-1]
§ Rantai melambangkan sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab [sila ke-2]
§ Pohon Beringin melambangkan sila Persatuan Indonesia [sila ke-3]
§ Kepala banteng melambangkan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan [sila ke-4]
§ Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia [sila ke-5]
o Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci
o Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wilayah Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa
Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), antara lain:
o Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17
o Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8
o Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19
o Jumlah bulu di leher berjumlah 45
Pita yg dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda beda, tetapi tetap satu jua

Sejarah dan Arti Kiasan Warna-warna Bendera Kebangsaan Indonesia

Bendera nasional Indonesia adalah sebuah bendera berdesain sederhana dengan dua warna yang dibagi menjadi dua bagian secara mendatar (horizontal). Warnanya diambil dari warna Kerajaan Majapahit. Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih.
Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII.[1]
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.[2]
Di jaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang.[3]
Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda.
Bendera yang dinamakan Sang Merah Putih ini pertama kali digunakan oleh para pelajar dan kaum nasionalis pada awal abad ke-20 di bawah kekuasaan Belanda. Setelah Perang Dunia II berakhir, Indonesia merdeka dan mulai menggunakan bendera ini sebagai bendera nasional.
Sang Saka Merah Putih merupakan julukan kehormatan terhadap bendera Merah Putih negara Indonesia. Pada mulanya sebutan ini ditujukan untuk bendera Merah Putih yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, saat Proklamasi dilaksanakan. Tetapi selanjutnya dalam penggunaan umum, Sang Saka Merah Putih ditujukan kepada setiap bendera Merah Putih yang dikibarkan dalam setiap upacara bendera.
Bendera pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pada tahun 1944. Bendera berbahan katun Jepang (ada juga yang menyebutkan bahan bendera tersebut adalah kain wool dari London yang diperoleh dari seorang Jepang. Bahan ini memang pada saat itu digunakan khusus untuk membuat bendera-bendera negara di dunia karena terkenal dengan keawetannya) berukuran 276 x 200 cm. Sejak tahun 1946 sampai dengan 1968, bendera tersebut hanya dikibarkan pada setiap hari ulang tahun kemerdekaan RI. Sejak tahun 1969, bendera itu tidak pernah dikibarkan lagi dan sampai saat ini disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek di dua ujungnya, ujung berwarna putih sobek sebesar 12 X 42 cm. Ujung berwarna merah sobek sebesar 15x 47 cm. Lalu ada bolong-bolong kecil karena jamur dan gigitan serangga, noda berwarna kecoklatan, hitam, dan putih. Karena terlalu lama dilipat, lipatan-lipatan itu pun sobek dan warna di sekitar lipatannya memudar.
Setelah tahun 1969, yang dikerek dan dikibarkan pada hari ulang tahun kemerdekaan RI adalah bendera duplikatnya yang terbuat dari sutra. Bendera pusaka turut pula dihadirkan namun ia hanya ‘menyaksikan’ dari dalam kotak penyimpanannya.
Untuk keterangan teknis tentang bendera Merah Putih, silakan lihat Bendera Indonesia.

Arti Warna

Bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia.
Ditinjau dari segi sejarah, sejak dahulu kala kedua warna merah dan putih mengandung makna yang suci. Warna merah mirip dengan warna gula jawa/gula aren dan warna putih mirip dengan warna nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa. Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul abang putih). Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.

Sejarah SMA N 1 KALIANDA

SMAN 1 Kalianda didirikan 14 Juli 1981 berdasarkan surat keputusan Menteri Kependidikan dan Kebudayaan dengan Nomor SK No.0219/ O/1983, kegiatan belajar mengajar dimulai tahun 1981 dan terakreditasi B berdasarkan surat keputusan badan akreditasi sekolah Propinsi Lampung pada tanggal 11 Agustus 2005. Sejak tahun 2006 SMA N. 1 Kalianda di tunjuk menjadi salah satu sekolah rintisan sekolah standar Nasional di Lampung Selatan dan menjadi sekolah tempat pencangan kantin kejujuran untuk tingkat kabupaten Lampung Selatan

SMA Negeri 1 Kalianda Lampung Selatan terletak di paling ujung pulau Sumatera yang berbatasan dengan selat Sunda dengan jarak + 80 km dari Bandar Lampung. Dan terletak di tengah-tengah kota Kalianda. Walaupun terletak di kabupaten yang kecil, namun SMAN 1 Kalianda tak kalah hebatnya dengan sekolah-sekolah lain yang ada di pusat lampung. Banyak prestasi-prestasi yang telah di raihnya, dan juga banyak alumni yang diterima di PTN, PTK, PTS ternama, Bahkan sudah ada alumni yang sukses.
SEJARAH KEPEMIMPINAN SMA N 1 KALIANDA
Drs. MUHAMMAD SALEH tahun 1981 s.d tahun 1994
Drs. TADJUDDIN NOOR tahun 1994 s.d tahun 1999
Drs. RATMAN JAIS tahun 1999 s.d tahun 2000
Dra. Hj. ASLAWATI AGIM, M.Sc, MM tahun 2000 s.d tahun 2001
Drs. ISMAIL FATTAH tahun 2001 s.d tahun 2006
Dra. NAILATUL HIDAYAH tahun 2006 s.d 2010
Drs. Mawardi tahun 2010 s.d sekarang

guru

kepala sekolah ajaran 2006 s/d 2010

BIO
DATA
NAMA
Dra. NAILATUL HIDAYAH
NIP
131473380
JABATAN
KEPALA SEKOLAH
PANGKAT/GOL
PEMBINA / IVa
PENDIDIKAN
S.1.PEND.EKONOMI UNILA

Disiplinkan Guru dengan Absen Elektronik

KALIANDA – Kepala SMAN 1 Kalianda, Lampung Selatan Drs. Mawardi telah menerapkan absen elektronik bagi seluruh gurunya. Yaitu dengan memasang absen tersebut tepat di pintu masuk sekolah setempat.

    ’’Cara ini sangat efektif karena dapat memantau kehadiran guru. Sehingga tingkat disiplin dan seluruh tenaga pengajar di sekolah kami pun setiap harinya terus meningkat,’’ tandasnya saat ditemui di sekolah setempat kemarin (26/7).
    Mawardi menguraikan, itu sesuai tujuan dipasangnya absen elektronik tersebut. Yakni guna meningkatkan kehadiran para guru di sekolahnya. ’’Sehingga, para guru yang bertugas tidak bisa memanipulasi data kehadirannya. Kalau dulu, absen tulis lebih mudah dimanipulasi. Sekarang tidak bisa lagi karena sistemnya online, bisa diakses lewat komputer,’’ urai dia.
Digunakannya absen elektronik juga karena SMAN 1 merupakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). ’’Jadi sangatlah wajar kalau kami terapkan sistem absen seperti ini,’’ tuturnya.
    Diungkapkan, dengan absen elektronik bisa mengurangi guru yang malas. ’’Karena dari perangkat tersebut, bisa diketahui waktu kehadiran guru setiap harinya,’’ ungkap Mawardi.
    Penggunaan absen elektronik itu juga disambut positif para guru di sekolah setempat. Waka Kurikulum SMAN 1 Kalianda Dra. Hernani Zumilah, M.Pd. mengakui, dengan absen ini bisa meningkatkan disiplin para guru. Selain itu, bisa mengurangi keinginan para guru untuk meninggalkan sekolah pada jam pelajaran.
    ’’Karena absen itu (elektronik, Red), bukan saja untuk mengabsen kedatangan, tapi waktu pulang sekolah pun semua guru wajib absen kembali,’’ terangnya.
    Dia menambahkan, absen elektronik dapat membantu pihak sekolah untuk menegakkan disiplin. Kehadiran para guru tidak bisa direkayasa ataupun dibuat dalam laporan tertulis. Sebab, absen ini langsung diakses melalui komputer.
    ’’Seluruh guru di SMAN 1 Kalianda ini tidak bisa merekayasa kehadirannya. Karena absen elektronik bekerja berdasarkan struktur jari tangan setiap guru. Sehingga, absen elektronik sangat akurat dan bisa meningkatkan kedisiplinan,

Sabtu, 03 Desember 2011

Juara II Honda Best Student

Pada bulan desember 2008 SMA Negeri 1 Kalianda telah mendapatkan juara 2 lomba KIR tingkat propinsi Lampung. Siswa yang menjadi juara mendapatkan uang saku satu juta rupiah, beasiswa, dan tour ke Jakarta selama 5 hari. Siswa tersebut bernama Silvia Ardita yang merupakan siswi kelas XI IPA.2. Pembimbing Materi oleh Seno Hartono,S.T.P dan Drs. Sahono sebagai pembimbing Bahasa. Kepala Sekolah kami, Dra. Nailatul Hidayah mengatakan bangga atas prestasi silvi ardita yang akan berlomba tingkat nasional pada minggu ini.

Jumat, 25 November 2011

Ekstrakulikuler

SMA Negeri 1 memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya,

FASILITAS

Berbagai fasilitas dimiliki SMAN 1 Kalianda untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Fasilitas tersebut antara lain:

SMA N 1 KALIANDA LAM-SEL

SMA Negeri (SMAN) 1 Kalianda, merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Provinsi Lampung, Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia masa pendidikan sekolah di SMAN 1 Kalianda ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII.
Pada tahun 2007, sekolah ini menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebelumnya dengan KBK.[rujukan?]

Cari Blog Ini

SMA N 1 KALIANDA

SMA N 1 KALIANDA
LAM - SEL

jumlah pengunjung

pengunjung

video

http://youtu.be/pkcJEvMcnEg

buku tamu


ShoutMix chat widget

fhoto

fhoto

Teks

saya ingin mengenalkan blog tentang tempat saya belajar waktu duduk di bangku SMA

waktu dan tanggal

smadav

smadav antivirus indonesia
'Subscribe'
'Add
'Add
Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all